Open Access dan Lisensi Creative Commons untuk Peneliti

Open access atau akses terbuka berarti artikel ilmiah bisa dibaca, diunduh, dan dibagikan secara gratis oleh siapa saja melalui internet. Lisensi Creative Commons adalah aturan tertulis yang menjelaskan apa yang boleh dilakukan orang lain terhadap karya itu, misalnya menyalin, menerjemahkan, atau memakainya untuk tujuan komersial. Keduanya sering muncul bersama: artikel akses terbuka hampir selalu diterbitkan dengan salah satu lisensi Creative Commons.

Bagi peneliti pemula, memahami dua hal ini penting karena memengaruhi siapa yang bisa membaca karyamu, apa yang boleh kamu lakukan dengan artikelmu sendiri setelah terbit, dan kadang berapa biaya yang perlu kamu siapkan.

Mengapa Akses Terbuka Penting

Pada model berlangganan tradisional, artikel hanya bisa dibaca oleh orang yang perpustakaannya berlangganan jurnal itu atau yang membayar per artikel. Banyak mahasiswa, guru, praktisi, dan peneliti di kampus kecil tidak punya akses tersebut. Akses terbuka menghapus hambatan itu. Manfaatnya bagi penulis:

  • Pembaca lebih luas, termasuk praktisi dan pembuat kebijakan.
  • Peluang artikel dibaca dan dikutip lebih besar.
  • Hasil riset yang didanai publik bisa diakses publik.
  • Kamu bebas membagikan versi terbit di media sosial, repositori, atau kelas.

Jalur Akses Terbuka

Ada beberapa jalur untuk membuat artikel terbuka. Istilahnya memakai warna.

Jalur Cara kerja Siapa yang membayar
Gold Jurnal menerbitkan artikel langsung secara terbuka Sering penulis atau lembaganya melalui biaya pemrosesan artikel (APC)
Diamond (atau platinum) Jurnal terbuka tanpa biaya bagi pembaca maupun penulis Lembaga penerbit, kampus, atau komunitas
Green Penulis menyimpan salinan naskah di repositori, walau jurnalnya berlangganan Umumnya tanpa biaya
Hybrid Jurnal berlangganan yang membuka artikel tertentu bila penulis membayar Penulis atau lembaganya

Banyak jurnal nasional di Indonesia sebenarnya memakai model diamond atau mengenakan biaya yang relatif kecil, karena dikelola kampus. Besaran APC sangat beragam dan bisa berubah, jadi selalu cek halaman biaya di situs jurnal sebelum mengirim naskah. Jalur green dibahas lebih rinci di artikel tentang preprint dan repositori.

Mengenal Lisensi Creative Commons

Lisensi Creative Commons (CC) dibangun dari empat unsur. Setiap lisensi adalah kombinasi unsur-unsur ini:

  • BY (Attribution): pengguna wajib mencantumkan nama pencipta dan sumbernya. Unsur ini ada di semua lisensi CC utama.
  • SA (ShareAlike): karya turunan harus dibagikan dengan lisensi yang sama.
  • NC (NonCommercial): karya tidak boleh dipakai untuk tujuan komersial tanpa izin.
  • ND (NoDerivatives): karya tidak boleh diubah, misalnya diterjemahkan atau diadaptasi, lalu dibagikan.

Enam lisensi dan artinya

  1. CC BY: paling terbuka. Siapa pun boleh menyalin, mengubah, dan memakai untuk apa pun, asalkan mencantumkan sumber. Banyak penyandang dana riset dan jurnal akses terbuka memakai lisensi ini.
  2. CC BY-SA: seperti CC BY, tetapi karya turunan harus memakai lisensi yang sama. Lisensi yang dipakai Wikipedia.
  3. CC BY-NC: boleh diubah dan dibagikan, tetapi tidak untuk tujuan komersial.
  4. CC BY-NC-SA: nonkomersial dan turunan harus memakai lisensi yang sama.
  5. CC BY-ND: boleh dibagikan, termasuk untuk komersial, tetapi tidak boleh diubah.
  6. CC BY-NC-ND: paling ketat. Hanya boleh dibagikan utuh, dengan atribusi, untuk tujuan nonkomersial.

Penjelasan resmi dan teks hukum setiap lisensi tersedia di situs Creative Commons.

Contoh dalam Praktik

Bayangkan artikelmu tentang pengelolaan sampah di desa pesisir terbit dengan lisensi CC BY. Seorang guru ingin menerjemahkan ringkasannya ke bahasa daerah untuk bahan ajar. Sebuah lembaga swadaya ingin memasukkan grafikmu ke laporan tahunan. Keduanya boleh melakukannya tanpa meminta izin, asalkan mencantumkan namamu dan sumber artikel.

Bila artikel yang sama memakai CC BY-NC-ND, guru tadi tidak boleh membagikan terjemahannya, karena terjemahan termasuk karya turunan. Lembaga yang menjual laporannya juga tidak boleh memakai grafikmu tanpa izin.

Hak Cipta: Siapa Pemiliknya?

Hal ini sering membingungkan. Pada banyak jurnal akses terbuka, penulis tetap memegang hak cipta, lalu memberi jurnal lisensi untuk menerbitkan. Pada jurnal lain, penulis diminta menandatangani pengalihan hak cipta (copyright transfer agreement) kepada penerbit. Baca formulir ini dengan teliti sebelum menandatangani, karena isinya menentukan apakah kamu boleh:

  • Mengunggah versi terbit ke repositori kampus.
  • Memakai ulang tabel dan gambar di disertasi atau buku.
  • Membagikan PDF artikel kepada mahasiswa.

Memilih Lisensi untuk Karyamu

Sering kali jurnal sudah menetapkan lisensinya, jadi pilihanmu sebenarnya ada pada saat memilih jurnal. Bila kamu yang menentukan, misalnya saat mengunggah preprint, data, atau materi ajar, pertimbangkan pertanyaan ini:

  • Apakah ada aturan penyandang dana atau kampus yang mewajibkan lisensi tertentu?
  • Apakah kamu ingin karya diterjemahkan dan diadaptasi bebas? Bila ya, hindari ND.
  • Apakah kamu keberatan bila karya dipakai pihak komersial? Ingat, batas “komersial” kadang kabur dan bisa menghalangi pemakaian yang sebenarnya kamu inginkan.
  • Untuk data riset, banyak repositori menyarankan lisensi yang sangat terbuka seperti CC BY atau CC0 (pelepasan ke domain publik).

Salah Paham yang Sering Muncul

  • “Akses terbuka berarti mutunya rendah.” Tidak benar. Banyak jurnal akses terbuka menjalankan telaah sejawat yang ketat. Mutu ditentukan oleh proses editorial, bukan oleh model akses.
  • “Semua jurnal akses terbuka memungut biaya.” Tidak. Model diamond tidak memungut biaya dari penulis maupun pembaca.
  • “Artikel CC BY boleh dipakai tanpa menyebut sumber.” Keliru. Atribusi tetap wajib.
  • “Gratis dibaca berarti bebas dipakai ulang.” Belum tentu. Artikel yang bisa dibaca gratis tanpa lisensi terbuka tetap dilindungi hak cipta penuh.
  • “Lisensi bisa diganti kapan saja.” Lisensi Creative Commons tidak bisa ditarik untuk salinan yang sudah dibagikan. Pilih dengan sadar sejak awal.

Daftar Periksa Sebelum Mengirim Naskah

  • Cek model akses jurnal: berlangganan, gold, diamond, atau hybrid.
  • Cek biaya dan kebijakan keringanan di situs resmi jurnal.
  • Cek lisensi yang dipakai untuk artikel terbit.
  • Baca perjanjian hak cipta atau lisensi penerbitan.
  • Cek kebijakan penyimpanan di repositori untuk tiap versi naskah.
  • Pastikan jurnal akses terbuka itu kredibel, misalnya dengan mengecek keanggotaannya di DOAJ dan mewaspadai tanda-tanda jurnal predator.

Dengan memahami akses terbuka dan lisensi sejak awal, kamu bisa mengatur agar karyamu menjangkau pembaca seluas mungkin tanpa kehilangan kendali yang kamu perlukan.

Scroll to Top